Makalah Komunikasi Non-Verbal

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Definisi Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi di mana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat  yang bukan kata-kata, menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.

B.     Jenis-Jenis Komunikasi Non-Verbal
Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari komunikasi non-verbal. Berikut ini ada beberapa jenis komunikasi non-verbal, yaitu:
1.      Komunikasi Objek
Komunikasi objek yang paling umum adalah penggunaan pakaian. Orang sering dinilai dari jenis pakaian yang digunakannya, walaupun ini dianggap termasuk salah satu bentuk stereotipe. Misalnya orang sering lebih menyukai orang lain yang cara berpakaiannya menarik. Selain itu, dalam wawancara pekerjaan seseorang yang berpakaian cenderung lebih mudah mendapat pekerjaan daripada yang tidak. Contoh lain dari penggunaan komunikasi objek adalah seragam.



2.      Sentuhan
Haptik adalah bidang yang mempelajari sentuhan sebagai komunikasi nonverbal. Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. Masing-masing bentuk komunikasi ini menyampaikan pesan tentang tujuan atau perasaan dari sang penyentuh. Sentuhan juga dapat menyebabkan suatu perasaan pada sang penerima sentuhan, baik positif ataupun negatif.

3.      Kronemik
Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality).

4.      Gerakan Tubuh
Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mataekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frasa, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau mengendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.

5.      Proxemik
Proxemik atau bahasa ruang, yaitu jarak yang Anda gunakan ketika berkomunikasi dengan orang lain, termasuk juga tempat atau lokasi posisi Anda berada. Pengaturan jarak menentukan seberapa jauh atau seberapa dekat tingkat keakraban Anda dengan orang lain, menunjukkan seberapa besar penghargaan, suka atau tidak suka dan perhatian Anda terhadap orang lain, selain itu juga menunjukkan simbol sosial. Dalam ruang personal, dapat dibedakan menjadi 4 ruang interpersonal :
-          Jarak intim
Jarak dari mulai bersentuhan sampai jarak satu setengah kaki. Biasanya jarak ini untuk bercinta, melindungi, dan menyenangkan.
-          Jarak personal       
Jarak yang menunjukkan perasaan masing - masing pihak yang berkomunikasi dan juga menunjukkan keakraban dalam suatu hubungan, jarak ini berkisar antara satu setengah kaki sampai empat kaki.
-          Jarak sosial           
Dalam jarak ini pembicara menyadari betul kehadiran orang lain, karena itu dalam jarak ini pembicara berusaha tidak mengganggu dan menekan orang lain, keberadaannya terlihat dari pengaturan jarak antara empat kaki hingga dua belas kaki.
-          Jarak publik          
Jarak publik yakni berkisar antara dua belas kaki sampai tak terhingga.

6.      Vokalik
Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut paralinguistik. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan suara-suara pengisi seperti "mm", "e", "o", "um", saat berbicara juga tergolong unsur vokalik, dan dalam komunikasi yang baik hal-hal seperti ini harus dihindari.

7.      Lingkungan
Lingkungan juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Diantaranya adalah penggunaan ruangjaraktemperaturpenerangan, dan warna.

C.    Fungsi Komunikasi Non-Verbal     
Mark L Knapp mengemukakan istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap atau tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. 

Mark L. Knapp, menyebut lima fungsi pesan nonverbal dihubungkan dengan pesan verbal:
  1. Repetisi (repeating), yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. 
  2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. 
  3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal.
  4. Complementing, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. 
  5. Aksentuasi/accenting/menekannkan, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. 

Ada pula menurut Paul Ekman yang menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan dengan perilaku mata, sebagai berikut:
  1. Emblem, gerakan mata tertentu merupakan simbol yang memiliki kesetaraan dengan simbol verbal. Seperti kerlingan mata kepada seseorang yang dapat mengatakan “saya sedang menggoda anda”
  2. Ilustrator, pandangan kebawah dapat menunjukkan deperesi atau kesedihan
  3. Regulator, kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkan muka berarti ketidaksediaan berkomunikasi.
  4. Penyesuai, kedipan mata yang cepat meningkat ketika seseorang berada dalam tekanan. Hal ini merupakan respon tubuh yang tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan.
  5. Affect display, pembesaran manik mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut, terkejut, atau senang.

Serta Joseph A Devito yang menguraikan enam fungsi pesan nonverbal dalam komunikasi interpersonal di bukunya yang berjudul The Interpersonal Communication Book. Enam fungsi pesan nonverbal tersebut adalah sebagai berikut:
-          Fungsi aksentuasi, digunakan untuk membuat penekanan pada bagian tertentu pesan nonverbal. Contohnya meninggikan nada suara.
-          Fungsi komplemen, digunakan untuk menyampaikan nuansa tertentu yang tidak dapat diutarakan melalui pesan verbal.
-          Fungsi kontradiksi, digunakan untuk mempertentangkan pesan verbal dengan pesan nonverbal dalam rangka mencapai maksud tertentu.
-          Fungsi regulasi, digunakan untuk menunjukkan bahwa komunikator ingin mengatakan sesuatu.
-          Fungsi repetisi, digunakan untuk mengulangi maksud yang disampaikan melalui pesan verbal.
-          Fungsi substitusi, digunakan untuk mengganti pesan verbal tertentu.

D.    Perbedaan Komunikasi Nonverbal Antar Golongan Atau Sekelompok Orang
Ada dugaan bahwa bahasa nonverbal sebangun dengan bahasa verbalnya. Artinya, pada dasarnya suatu kelompok yang mempunyai bahasa verbal khas juga dilengkapi dengan bahasa nonverbal khas yang sejajar dengan bahasa verbal tersebut. Perbedaan penafsiran pesan nonverbal bisa terjadi kapan saja dan dimana seseorang itu berada. Di bawah ini akan dibandingkan beberapa makna pesan nonverbal:
1.    Di Amerika dan Jerman, isyarat untuk ”beres”, ”oke”, atau ”bagus” adalah suatu lingkaran yang dibentuk oleh ibu jari dan telunjuk dengan ketiga jari lainnya berdiri. Di Prancis Utara, isyarat itu sama seperti di Amerika, sedangkan di Prancis Selatan mempunyai arti ”tidak ada” atau ”nol”. Di Paris, isyarat ”OK” ala Amerika tersebut berarti ”kamu tidak berharga” dan di Yunani itu berarti ajakan seksual yang tidak sopan, sedangkan di Jepang dan Filipina isyarat tersebut berarti ”uang”.
2.    Di Uni Emirat Arab, menggelengkan kepala berarti ”ya”. Maka seorang TKW Indonesia bernama Kartini dituduh telah melakukan penghinaan dengan seorang pekerja asal India dan dinyatakan bersalah karena ia menggelengkan kepalanya ketika ia ditanya oleh jaksa dan hakim.
3.    Orang Jawa dan orang Sunda tradisional tampaknya berperilaku mirip dengan orang Jepang, sedangkan orang Batak seperti orang Amerika. Baik orang Jepang atau orang Jawa menganggap menatap orang lain sebagai tidak sopan. Jadi, kalau mereka menundukkan kepala ketika berbicara, itu dimaksudkan untuk menghormati lawan bicara yang biasanya orang tua atau yang berstatus lebih tinggi. Kesalahpahaman terjadi ketika ada seorang pekerja asal Sumatra Utara dipecat oleh majikannya (orang Sunda) karena saat dijelaskan mengenai suatu pekerjaan, si pekerja menatap mata si majikan sehinggga salah tafsir pun terjadi.


­­­
E.     Pentingnya Komunikasi Non-Verbal         
Komunikasi nonverbal dapat menunjang komunikasi verbal yang kita lakukan kepada lawan bicara kita. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan komunikasi tanpa kita sadari memiliki peran yang penting dalam kehidupan kita. Perasaan dan emosi lebih mudah disampaikan melalui pesan nonverbal. Sebagai contoh, teman anda sedang bersedih dan menyendiri lalu anda bertanya apa yang terjadi kepadanya, namun teman anda hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dari komunikasi tersebut anda bisa mengetahui bahwa lawan bicara anda sebenarnya sedang bersedih, namun tidak ingin menceritakan sebab kesedihannya. Ilustrasi tersebut menandakan bahwa pesan nonverbal cenderung lebih mudah diterima, karena kita bisa memahami ekspresi lawan bicara kita dalam berkomunikasi sehingga kita bisa merasakan secara langsung emosi dari lawan bicara.
Selain itu komunikasi nonverbal juga dapat membuat kita terhindar dari kerancuan dan memperkecil kemungkinan untuk tertipu oleh lawan bicara. Bahasa nonverbal kebanyakan adalah bahasa spontan yang seringkali digunakan untuk melengkapi komunikasi verbal. Seseorang bisa saja berkata “tidak” sambil menggelengkan kepalanya, namun ekspresi tubuhnya justru mengatakan sebaliknya. Manusia cenderung lebih jujur berkomunikasi melalui pesan nonverbal. Maka dari itu, komunikasi verbal atau komunikasi yang disampaikan melalui perkataan bukanlah satu satunya hal yang terpenting dalam berkomunikasi. Kita juga harus memperhatikan pesan nonverbal yang disampaikan agar kita dapat memahami lawan bicara sehingga terjadi komunikasi yang baik dan terhindar dari salah paham dalam berkomunikasi.

F.     Prinsip Komunikasi Non Verbal
Menurut Julia T. Wood terdapat 5 prinsip komunikasi non-verbal dalam bukunya Communication Mosaics: An Introduction to the Field of Communication – Kindle.
1.      Komunikasi Nonverbal Bersifat Ambigu
Seperti halnya komunikasi verbal, komunikasi non-verbal pun bersifat ambigu. Tidak semua manusia bisa mengerti apa yang disampaikan orang lain melalui perilau verbalnya. Keambiguan komunikasi nonverbal muncul karena seiring berjalannya waktu, makna ikut berlalu. Misalkan pada tahun 1960-an dua jari diartikan sebagai kemenangan dan kedamaian setelah perang dunia ke-2. Contoh lain ketika tren kaos polo, dahulu orang-orang selalu memakai kemeja ketika datang ke acara formal, namun sekarang kaos polo boleh dipakai untuk acaara formal (tergantung bagaimana budaya di lingkungan tersebut).
2.      Interaksi Komunikasi Nonverbal dengan Komunikasi Verbal       
Peneliti komunikasi mengidentifikasi 5 cara perilaku nonverbal berinteraksi dengan komunikasi verbal (Andersen, 1999; Guerrero & Floyd, 2006). Pertama, perilaku nonverbal mungkin mengulang pesan verbal, misalnya ketika kita mengatakan “ya” maka ketika itu kepala kita mengangguk. Kedua, perilaku nonverbal menyoroti komunkasi verbal, seperti ketika kita menggunakan infleksi atau perubahan bentuk kata untuk memberi penekanan pada kata tertentu, misal “ini adalah hal yang sangat serius untuk dibicarakan”. Ketiga, komunikasi nonverbal mungkin melengkapi atau menambahkan kata. Seringkali orang berbicara menggunakan gestur dan nada tinggi untuk memberikan penekanan pada statement atau hal-hal penting, begitu juga dengan penggunaan huruf tebal dan garis bawah pada media cetak dan media online. Keempat, komunikasi nonverbal kadangkala bertentangan dengan pesan verbal seperti ketika sebuah kelompok mengatakan “tidak ada yang salah” dengan nada dan volume rendah. Kelima, pesan nonverbal menggantikan pesan verbal, seperti ketika kita menggelengkan kepala ketika melihat sesuatu yang tidak wajar.
3.      Komunikasi Nonverbal Mengatur Jalannya Interaksi
Komunikasi nonverbal dapat mengatur jalannya interaksi. Ketika dosen sedang memberikan materi dan ketika dosen terdiam sambil melempar pandangan kepada mahasiswanya, hal tesebut merupakan bentuk komunikasi dari dosen yang menyuruh diam ketika beliau sedang menerangkan dan mempersilahkan mahasiswa untuk bertanya ketika beliau terdiam sambil memandang kearah mahasiswanya. Namun dari kita banyak yang tidak menyadari itu dan mengabaikannya.
4.      Komunikasi Nonverbal Mengidentifikasikan Hubungan-Tingkat Pemaknaan
Komunikasi nonverbal memiliki pengaruh yang sangat besar untuk mengekspresikan hubungan. Menurut buku Communication Mosaic terdapat 3 dimensi hubungan-tingkat pemaknaan yaitu responsiveness, liking dan power.
Responsiveness yaitu ketika kita bertemu dengan orang baru dan mengajaknya bicara maka akan terlihat dari mata dan gerak tubuhnya bahwa orang tersebut respon terhadap kita dan komunikasinya. Liking, semakin intim atau dekat suatu hubungan akan semakin tinggi juga tingkat pemaknaannya, contoh ketika kita berbicara dengan orang yang cocok dengan kita akan menunjukkan sikap, ekspresi dan hal-hal yang menunjukkan ketertarikannya dengan kita. Power, hal biasanya dapat terjadi akibat perbedaan gender, kelas, dan status sosial seseorang. Semakin tinggi derajat seseorang maka dalam berkomunkasi dia akan menunjukkan perilaku nonverbal yang menunjukkan status sosialnya. Contoh, seorang kiyayi memakai peci untuk menunjukkan statusnya. Begitu juga dengan laki-laki yang menaikkan dan meninggikan suaranya untuk memberikan pria lebih kuat dibandingkan perempuan.
5.      Komunikasi Nonverbal Merupakan Refleksi dari Nilai Budaya
Seperti komunikasi verbal, komunikasi non-verbal adalah bentuk refleksi dari suatu budaya. Sebagian besar bentuk komunikasi nonverbal tidak terbentuk melalui insting, tapi dipengaruhi dan dipelajari oleh budaya masing-masing individu. Seperti contoh orang Barat tidak suka berjabat tangan dan cium pipi kanan kiri sesama jenis. Namun lain halnya dengan budaya orang Timur yang lumrah melakukannya.           


BAB II
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, kita tidak akan bisa lepas dari apa yang dinamakan komunikasi, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan kerja. Dalam menyampaikan komunikasi seringkali pesan yang disampaikan tidak dapat diterima dengan sempurna oleh komunikan, oleh karena itu dibutuhkan komunikasi nonverbal untuk memperjelas pesan yang akan kita sampaikan, sehingga pesan dapat diterima dengan sempurna.
Komunikasi non verbal juga dapat digunakan untuk mempengaruhi komunikan untuk suatu tujuan sesuai dengan apa yang kita harapkan baik disadari maupun tidak oleh komunikan itu sendiri. Maka dari itu komunikasi nonverbal dapat mempermudah kita dalam menyampaikan sebuah pesan dan mempengaruhi komunikan agar melakukan tindakan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
B.     Saran
·         Apabila kita akan berkomunikasi dengan orang yang belum dikenal, akan lebih baik bagi kita untuk mencari tahu latar belankang orang yang akan kita ajak untuk berkomunikasi.
·         Pertimbangkan waktu dan suasana yang baik agar maksud dan tujuan kita tersampaikan dengan baik.
·         Perhatikan tata krama kita saat berbicara, karena itu akan mempengaruhi tingkat antusiasme orang yang kita ajak berkomunikasi.



DAFTAR PUSTAKA

-          Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D; Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar
-          WIKIPEDIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Mitos Diet